Monday, 29 Nov 2021
Opini

Gaya Baru Pembelajaran di Indonesia Dan Segala Tantangannya

Penulis adalah Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gunung Maddah Sampang

Penulis adalah Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gunung Maddah Sampang

*Oleh Abdul Hayyi

kemenagsampang.com- Pandemi akibat Covid-19 yang melanda dunia berdampak terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan yang paling nampak adalah pembelajaran yang semula tatap muka, kini beralih pada pembelajaran dengan sistem daring. Oleh karenanya, guru dituntut untuk meng- upgrade kompetensi digitalnya. Penulis meyakini bahwa pada akhirnya, pendidikan akan menjadi sepenuhnya digital yang diperkuat oleh kecerdasan buatan (komputasi) dan pembelajaran virtual.

Digitalisasi pendidikan menjadi tren yang hangat dalam reformasi dan modernisasi setiap satuan pendidikan. Digitalisasi berarti transformasi semua jenis informasi (teks, suara, visual, video dan data lainnya dari berbagai sumber) ke dalam bahasa digital. Pembelajaran virtual adalah metode belajar mengajar, di mana guru dan siswa tidak bertemu di ruang kelas, tetapi menggunakan internet; email, pesan elektronik, media sosial, dll., untuk mengadakan kelas.

Dalam pembelajaran virtual siswa terpisah dengan guru dan teman sebayanya. Artinya siswa belajar dari jarak jauh dan tidak melakukan pembelajaran tatap muka dengan guru atau siswa lain.Pembelajaran virtual bersifat individual dan bervariasi bergantung pada kecepatan, waktu dan keikutsertaan masing-masing siswa dalam berinteraksi dengan guru atau teman belajar.

Selain itu, siswa belajar mandiri di rumah dan bergantung pada ketersediaan alat pembelajaran online. Itulah mungkin sebabnya ada banyak guru, siswa dan orang tua kebingungan menghadapi persoalan ini. Meskipun demikian, dalam pembelajaran virtual siswa terhubung ke internet yang memungkinkan mereka mengakses informasi tanpa batas. Inilah faktor lain yang membantu membuat siswa lebih cepat memperoleh pengetahuan.

Kelebihan Pembelajaran Virtual

Pertama, kelebihan pembelajaran virtual seperti disebutkan di atas, siswa dapat belajar dengan mengakses pengetahuan yang diinginkan mereka melalui internet. Hal ini memungkinkan siswa untuk belajar setiap saat dengan cepat.

Kedua, pembelajaran virtual dapat diikuti oleh mereka yang tidak dapat menghadiri sekolah karena kesehatan atau situasi lain yang membuatnya perlu dibatasi di rumah. Bahkan, baik guru maupun siswa tidak perlu ‘terjebak’ di dalam ruang kelas, tetapi bisa belajar di teras, di halaman, di sofa ruang tamu atau di kamar mereka sendiri. Siswa dapat memilih waktu yang optimal untuk belajar di manapun dan kapan pun pada saat dalam kondisi produktif mereka.

Ketiga, pembelajaran virtual dapat diikuti oleh siswa yang mungkin memiliki batasan fisik, mereka yang tinggal di daerah terpencil, atau mereka yang tidak dapat bersekolah karena alasan tertentu. Ini memberikan kesempatan yang sama bagi orang untuk mengakses pendidikan tanpa ada batasan atau lokasi.

Hambatan Pembelajaran Virtual

Namun demikian, terdapat hambatan dalam menerapkan pembelajaran virtual. Setidaknya, penulis membuat dugaan-dugaan hambatan dalam penerapan pembelajaran virtual. Untuk memasatikan dugaan-dugaan ini perlu ada penelitian lebih lanjut.

Dugaan-dugaan hambatan dalam penerapan pembelajaran virtual ini, antara lain: Pertama, keterbatasan tenaga teknis. Teknologi berkembang dengan pesat, bahkan sulit bagi kita mengimbangi perubahan teknologi. Sementara guru tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk merancang dan mengajar pembelajaran virtual. Banyak sekolah kekurangan staf pendukung untuk membantu masalah teknis dalam mengembangkan materi pembelajaran virtual.

Kedua, keterbatasan akses. Banyak siswa tidak memiliki akses ke perangkat seperti HP, komputer atau internet, termasuk juga keterbatasan perangkat yang dimiliki guru atau sekolah. Selain itu, siswa maupun guru mungkin harus mengeluarkan beberapa biaya tambahan seperti untuk mendapatkan koneksi Internet. Belum lagi tambahan biaya perawatan jika sewaktu-waktu perangkat yang digunakan mengalami kerusakan.

Ketiga, Persamaan persepsi antara sekolah dengan orang tua. Banyak orang tua yang tidak bersepakat dengan sekolah dalam penerapan pembelajaran virtual. Tanpa kesamaan persepsi ini penerapan pembelajaran virtual akan sulit dapat terlaksana dengan baik.

Keempat, Keterbatasan Interaksi sosial. Dalam pembelajaran virtual mengalami keterbatasan interaksi sosial karena kurangnya kontak orang-ke-orang. Hal ini memungkinkan para guru, orang tua dan siswa merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa dan pembelajaran kolaboratif menjadi sulit dilaksanakan. Ada kekhawatiran tentang kualitas pembelajaran virtual dalam melalukan penilaian hasil belajar siswa, terutama menyangkut afektif atau penilaian sikap.

Kelima, ancaman teknologi. Beberapa guru dan orang tua khawatir dengan ancaman yang ditimbulkan dari dampak negatif penggunaan teknologi. Siswa bisa saja mengakses situs-situs terlarang atau penggunaan teknologi di luar kebutuhan seperti bermain game, media sosial atau yang lainnya.
Keenam, peluang gangguan tinggi. Dengan tidak adanya interaksi tatap muka dan tidak ada teman sekelas yang dapat membantu mengingatkan tugas menciptakan peluang untuk lalai dan lupa terhadap tugas yang diberikan guru .

Ketujuh, lemahnya kontrol terhadap siswa. Lemahnya kontrol keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran virtual juga termasuk persoalan penting. Bagaimana memonitor keikutsertaan siswa dalam pembelajaran virtual sulit diketahui. Bisa saja dalam pembelajaran yang tidak mengunakan video call, pekerjan-pekerjaan siswa dibantu orang lain.

Hal-hal yang disebutkan di atas masih bersifat dugaan saja dan masih memungkinkan ada hambatan-hambatan lain yang ditimbulkan. Secara sederhana, penulis merangkum ada empat hambatan dasar dalam penerapan pembelajaran berbasis digital, yaitu: sumber daya, akses, perangkat, dan motivasi siswa. Akan tetapi bagaimanapun juga pembelajaran berbasis digital merupakan sebuah tuntutan dalam merancang pendidikan masa depan dan semuanya harus mempersiapkan trasnformasi pembelajaran yang berkembang ini. Wallahu a'lam bissowab.

Post Comment